Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah dalam pengembangan obat terapi lanjutan atau Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP).
Upaya ini dilakukan melalui pemberian materi dalam kuliah tamu di Indonesia International Institute for Life Sciences.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa tujuan utama lembaganya adalah memastikan ketersediaan obat inovatif bagi masyarakat luas, sekaligus mendukung pertumbuhan industri.
"Target utama BPOM adalah membantu masyarakat luas dalam ketersediaan obat-obat inovasi. Tapi di lain sisi, akan turut berdampak kepada para industri. Karena niat kami sebagai seorang regulator untuk membantu, untuk melayani, bukan untuk mempersulit dalam proses perizinannya," ujar Taruna.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 29 April 2026, ia menjelaskan bahwa kolaborasi yang berjalan secara sinergis dapat mempercepat peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Forum seperti ini dinilai penting untuk memastikan inovasi terapi berbasis gen, sel, dan bioteknologi berkembang lebih cepat, namun tetap memenuhi standar keamanan, efektivitas, dan mutu yang ketat.
Ia memaparkan bahwa BPOM mengadopsi pendekatan academia-business-government (ABG) untuk mempercepat proses dari riset hingga komersialisasi.
Dalam skema ini, akademisi berperan dalam pengembangan riset dasar dan terapan serta mencetak sumber daya manusia yang kompeten.
"Kemudian, industri berkontribusi melalui investasi, pengembangan produk, transfer teknologi, dan pemenuhan standar mutu. Sementara, pemerintah melalui BPOM memberikan pendampingan regulatori agar inovasi tetap sesuai dengan regulasi dan dapat melalui proses evaluasi secara efisien," katanya.
Taruna juga menyoroti tren global yang menunjukkan percepatan pesat dalam pengembangan terapi berbasis biologi.
Saat ini, ribuan produk terapi gen, sel, dan asam ribonukleat (RNA) tengah dikembangkan di berbagai negara, bahkan sebagian sudah digunakan oleh pasien.
"Perkembangan ini dinilai membawa dampak langsung bagi masyarakat karena membuka peluang pengobatan yang lebih personal dan presisi, terutama untuk penyakit kronis, kanker, dan kelainan genetik," katanya, dikutip dari Antara.
Dalam mendukung inovasi tersebut, BPOM tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator.
Pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap penelitian, uji non-klinik dan klinik, hingga pemantauan pasca produksi.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjamin bahwa terapi inovatif yang tersedia bagi masyarakat tidak hanya modern, tetapi juga aman dan bermutu.
Dari sisi ekonomi, pengembangan ATMP dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan industri kesehatan nasional.
Sektor obat dan makanan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian, sekaligus membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian industri farmasi dalam negeri.
Meski demikian, pengembangan ATMP masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kompleksitas proses produksi, kebutuhan data klinis jangka panjang, hingga aspek keamanan yang harus terus dipantau.
Hal ini menuntut kesiapan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan, baik dari sisi regulasi, infrastruktur, maupun kualitas sumber daya manusia.
BPOM juga menekankan pentingnya percepatan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan secara nyata oleh masyarakat.
Melalui kolaborasi ABGC, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat berkembang menjadi produk kesehatan yang siap digunakan di layanan medis.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh