Nusantaratv.com-Center for Sustainability and Waste Management Universitas Indonesia (CSWM UI) bersama Bank Indonesia menyelenggarakan Webinar Nasional Graduasi Pendampingan UMKM Sirkuler bertajuk “UMKM Sirkuler Naik Kelas: Dari Inovasi Lokal Menuju Ekosistem Ekonomi Hijau” pada Jumat, 31Juli 2026. Kegiatan ini menandai selesainya rangkaian pendampingan dan uji coba model bisnis sirkuler bagi pelaku UMKM pengolahan limbah serat daun nanas di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan.
Dalam opening remarks, Prof. Dr. Ir. Mochamad Chalid, S.Si., M.Sc.Eng di webinar tersebut menyampaikan bahwa webinar ini tidak hanya menjadi penutupan administratif program, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk melihat capaian, pembelajaran, tantangan, dan arah keberlanjutan UMKM setelah proses pendampingan.
Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Dianwicaksih Arieftiara, S.E., Ak., M.Ak., CA., CSRS. sebagai expert pendamping dari CSWM UI serta Randy Krones dari Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau (DEIH) Bank Indonesia. Kegiatan juga diisi dengan sambutan Pemerintah Kota Prabumulih, serta refleksi dari perwakilan pelaku UMKM serat nanas.
Program pendampingan ini berangkat dari potensi besar limbah daun nanas di Kota Prabumulih yang selama ini memiliki potensi untuk dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber daya ekonomi. Berdasarkan data yang disampaikan dalam webinar, Kota Prabumulih memiliki sekitar 493,35 hektare lahan nanas, dengan estimasi potensi daun pascapanen mencapai 15.294 hingga 47.362 ton per siklus. Potensi ini membuka peluang bagi pengembangan industri kerajinan, tekstil, dan fesyen berbasis serat alami yang memiliki nilaitambah lebih tinggi.
Melalui pendekatan ekonomi sirkuler, daun nanas yang sebelumnya dipandang sebagai residu pertanian diarahkan menjadi bahan baku untuk menghasilkan serat, benang, kain, hingga berbagai produk fesyen dan kerajinan. Transformasi tersebut tidak hanya berpotensi mengurangi limbah pertanian,tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru, memperluas kesempatan usaha, dan memperkuat identitas produk lokal Kota Prabumulih.
Dalam paparannya yang berjudul “Dari Limbah Menjadi Peluang: Refleksi Pengembangan Model Bisnis Sirkuler UMKM Serat Daun Nanas,” Prof. Dian menjelaskan bahwa pendampingan dilaksanakan melalui tujuh tahapan, yaitu asesmen kondisi awal, peningkatan kapasitas, uji coba atau piloting, inisiasi business matchmaking, monitoring, graduasi, dan evaluasi.
Dua UMKM yang menjadi unit percontohan dalam program ini adalah Omah KreatifIndy dan DN Jemari. Pendampingan mencakup empat area utama, yaitu penguatan pasar dan digitalisasi, pengorganisasian kelompok, tata kelola keuangan, serta inisiasi business matchmaking.
Pada aspek pasar dan digitalisasi, pelaku UMKM didampingi untuk mengaktifkan serta mengoptimalkan marketplace, media sosial, WhatsApp Business, foto produk, dan katalog digital. Pendampingan juga diarahkan pada penguatan identitas merek dan legalitas kekayaan intelektual. Pada aspek keuangan, UMKM mulai menerapkan pencatatan usaha sederhana, menghitung Harga Pokok Produksi atau HPP, serta memahami hubungan antara struktur biaya, harga jual, dan profitabilitas.
Program ini turut menghasilkan pembentukan SENAPRA atau Serat Nanas Prabumulih sebagai wadah kolaborasi pelaku usaha dalam ekosistem serat nanas. Kehadiran SENAPRA diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar-UMKM, pembagian peran, posisitawar, kontinuitas bahan baku, dan akses terhadap mitra pendukung.
Menurut Prof. Dian, salah satu pembelajaran penting dari proses pendampingan adalah bahwa keberhasilan UMKM sirkuler tidak cukup ditentukan oleh ketersediaan bahan baku atau inovasi produk. Keberhasilannya membutuhkan kesinambungan antara teknologi produksi, keterampilan pelaku usaha, kelembagaan komunitas, strategi pemasaran,tata kelola keuangan, dan akses permodalan.
“Pendampingan bukan garis finish,tetapititik start perjalanan UMKM menuju bisnis sirkular yang mandiri,” ujar Prof. Dian.
Baca juga: Prof Mochamad Chalid Melalui CSWM UI Inisiasi Program Merdeka Sampah, Usung 7 Aspek Kunci
Hasil piloting menunjukkan bahwa fondasi bisnis mulai terbentuk melalui dokumentasi model bisnis sirkuler, penerapan pencatatan usaha, pembentukan kelembagaan, pembangunan jejaring, pemetaan rantai nilai dari hulu ke hilir, serta identifikasi hambatan produksi dan operasional.
Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dijawab pada
tahapan selanjutnya. Tantangan tersebut mencakup kapasitas produksi yang masih terbatas, pasokan daun nanas yang belum terjadwal secara konsisten, penggunaan teknologi pengolahan yang masih manual, kebutuhan peningkatan keterampilan teknis dan manajerial, serta belum terbangunnya akses berkelanjutan menuju pasar premium dan pembeli berskala industri.
Untuk mendukung proses “naik kelas”, pengembangan UMKM serat nanas diarahkan
melalui lima tahapan, yaitu community-based, commercial production, green supply chain, creative industry, dan exportready. Tahapan ini mencakup penguatan komunitas, standardisasi kualitas serat, peningkatan kapasitas produksi, kontrak pasokan bahan baku, sertifikasi produk ramah lingkungan, kemitraan dengan industri tekstil, diversifikasi produk, penguatan narasi merek, hingga pemenuhan standar ekspor.
Dalam kerangka ekonomi berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi perlu berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan sosial. Ekonomi sirkuler menjadi salah satu sasaran lingkungan dalam Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, khususnya dalam aspek ketahanan sumber daya dan ekonomi sirkuler.
Dukungan kepada UMKM antara lain dilakukan melalui penyusunan Pedoman Model Bisnis UMKM Berkelanjutan, pengembangan pertanian dan desa wisata berkelanjutan, pendampingan UMKM sirkuler, business matching dengan lembaga jasa keuangan, serta fasilitasi promosi perdagangan di tingkat nasional maupun internasional. Bank Indonesia juga mengembangkan model bisnis ekonomi sirkuler untuk berbagai aliran material, termasuk plastik, minyak jelantah, limbah organik melalui budidaya Black Soldier Fly, dan limbah daun nanas.
Dalam model bisnis serat daun nanas, fasilitasi yang dapat diberikan mencakup business matching pembiayaan, business matching pemasaran, dukungan sarana dan prasarana serta sertifikasi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pendekatan ini diharapkan dapat menghubungkan kelompok tani nanas, pengolah serat, UMKM, lembaga pembiayaan, pemerintah, perguruan tinggi, dan pasar dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Mengakhiri paparannya, Randy menekankan bahwa penguatan ekonomi hijau bukan hanya mengenai pertumbuhan bisnis, tetapi juga membangun masa depan ketika kegiatan ekonomi dan kelestarian bumi dapat berkembang secara berdampingan.
Graduasi ini menjadi awal bagi UMKM serat nanas Prabumulih untuk melanjutkan proses transformasi secara lebih mandiri. Beberapa tindak lanjut yang direkomendasikan meliputi penguatan legalitas SENAPRA, penyediaan tenaga khusus pengelola media sosial, fasilitasi akses pasar dan offtaker, percepatan akses KUR dan alternatif pembiayaan, peningkatan teknologi produksi, standardisasi kualitas serat, serta kajian dampak ekonomi dan lingkungan dalam jangka panjang.
Replikasi model bisnis sirkuler kepada UMKM lain di Kota Prabumulih juga menjadi peluang untuk memperluas manfaat program. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kolaborasi yang konsisten antara UMKM, pemerintah daerah, Bank Indonesia dan lembaga keuangan, perguruan tinggi, industri, serta mitra pasar.
Melalui program ini, CSWM UI dan Bank Indonesia menegaskan bahwa inovasi lokal berbasis pemanfaatan limbah dapat menjadi bagian penting dari pembangunanekonomi hijau. Limbah daun nanas tidak lagi ditempatkan sebagai akhir dari kegiatan produksi pertanian, tetapi sebagai awal dari rantai nilai baru yang berpotensi menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh