Hadapi Gempuran Mobil Listrik China, Volkswagen dan Stellantis Ubah Strategi

Hadapi Gempuran Mobil Listrik China, Volkswagen dan Stellantis Ubah Strategi

Nusantaratv.com - 14 Oktober 2026

Ajang pameran otomotif Paris Motor Show 2026 menjadi ajang bagi Volkswagen dan Stelantis untuk menunjukkan strategi terbaru mereka. (Foto: Dok/Benoit Tessier/Reuters)
Ajang pameran otomotif Paris Motor Show 2026 menjadi ajang bagi Volkswagen dan Stelantis untuk menunjukkan strategi terbaru mereka. (Foto: Dok/Benoit Tessier/Reuters)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Volkswagen (VW) dan Stellantis semakin percaya diri menghadapi persaingan kendaraan listrik (EV) di Eropa. 

Kedua raksasa otomotif tersebut mulai memanfaatkan pengalaman dan teknologi dari China untuk memperkuat daya saing, mempercepat pengembangan produk, serta menghadapi ekspansi produsen mobil listrik asal Negeri Tirai Bambu.

Seperti dilaporkan Reuters, Selasa (13/10/2026), ajang pameran otomotif Paris Motor Show 2026 menjadi ajang bagi kedua perusahaan untuk menunjukkan strategi terbaru mereka. 

Di tengah persaingan yang semakin ketat, Volkswagen dan Stellantis berupaya mengambil pelajaran dari para pesaing sekaligus mitra asal China yang telah mengubah lanskap industri otomotif di pasar domestiknya.

Stellantis, grup otomotif Prancis-Italia yang menaungi merek Citroen, Peugeot, Opel, dan Fiat di Eropa, bahkan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan perusahaan China.

CEO Stellantis, Antonio Filosa, mengatakan perusahaan memanfaatkan kemitraan dengan Leapmotor dan Dongfeng untuk memahami keunggulan kompetitif produsen otomotif China, khususnya dalam teknologi dan pengembangan kendaraan.

"Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan bahwa kita kekurangan kemampuan kunci, tetapi tentu ada area di mana kita dapat saling melengkapi," kata Filosa kepada wartawan.

Menurutnya, kerja sama antartim teknik dapat membantu perusahaan mengidentifikasi sumber keunggulan pesaing sekaligus menemukan cara untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.

"Dengan bekerja sama dan menyatukan tim teknik kami untuk memahami bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, kita dapat mengidentifikasi dari mana daya saing itu berasal dan belajar darinya," ujarnya.

Stellantis Percepat Strategi Lewat Mitra China

Stellantis memperkuat langkahnya melalui kerja sama dengan Leapmotor dan Dongfeng. Perusahaan tersebut telah menjalin kerja sama produksi dengan Leapmotor dan berencana membangun kemitraan lain dengan Dongfeng sebagai bagian dari perubahan strategi di bawah kepemimpinan Filosa.

Kemitraan tersebut juga diarahkan untuk mendukung produksi lokal di Eropa agar dapat memenuhi ketentuan "Made in Europe" yang akan datang.

Perubahan strategi ini berlangsung ketika pasar kendaraan listrik Eropa menunjukkan perkembangan positif. 

Kenaikan harga bahan bakar dan kehadiran model EV yang lebih terjangkau ikut mendorong minat konsumen, termasuk terhadap produk dari Volkswagen dan Stellantis.

Namun, kedua grup otomotif tersebut masih menghadapi tekanan dari produsen China yang semakin agresif memperluas pasar ke luar negeri di tengah tantangan di pasar domestik mereka.

CEO Leapmotor International, Danilo Annese, mengatakan permintaan terhadap mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mulai menunjukkan perkembangan yang lebih kuat daripada perkiraan sebelumnya.

"Kami melihat bagaimana BEV mendapatkan daya tarik yang tidak kami duga setahun yang lalu, juga di negara-negara seperti Italia dan Spanyol, di mana BEV kurang diadopsi," kata Annese.

Salah satu hasil kolaborasi Stellantis dan Leapmotor adalah pengembangan SUV listrik berukuran menengah yang melibatkan Leapmotor dan Opel, merek asal Jerman di bawah naungan Stellantis.

CEO Opel, Florian Huettl, menyoroti kecepatan pengembangan kendaraan dalam proyek tersebut. 

Kolaborasi ini menjadi contoh relatif langka ketika produsen mobil Barat bekerja secara langsung dengan perusahaan China untuk menghadirkan model baru ke pasar dalam waktu sekitar dua tahun.

Meski demikian, upaya Stellantis memperbarui jajaran produknya belum tentu cukup untuk mengejar laju pesaing dari China.

Felipe Munoz dari Car Industry Analysis menilai perusahaan membutuhkan lebih banyak model yang benar-benar siap diproduksi dan dipasarkan, bukan hanya kendaraan konsep.

"Mereka tidak membutuhkan konsep. Mereka membutuhkan produksi. Sekarang, bukan dalam dua tahun," kata Munoz.

Volkswagen Jadikan China Tempat Belajar Industri Otomotif

Berbeda dengan Stellantis, Volkswagen lebih berfokus memanfaatkan kemitraan di pasar China. 

CEO Volkswagen, Oliver Blume, bahkan menggambarkan China sebagai "pusat kebugaran" bagi industri otomotif karena persaingan di negara tersebut mendorong produsen untuk terus meningkatkan kemampuan dan efisiensi.

Kemitraan Volkswagen dengan Xpeng, misalnya, difokuskan pada pengembangan kendaraan untuk pasar China. 

Sementara itu, peluang kerja sama dengan produsen China di Eropa belum berkembang menjadi pembicaraan konkret.

Sebelumnya, Blume sempat mengemukakan gagasan pemanfaatan kerja sama dengan perusahaan China untuk mengatasi kelebihan kapasitas pabrik di Eropa. 

Namun, dia mengatakan saat ini Volkswagen belum melihat kebutuhan untuk membentuk usaha patungan dengan perusahaan China di kawasan tersebut.

"Hingga saat ini kami merasa telah siap dengan baik berkat peluang yang telah kami kembangkan selama beberapa tahun terakhir di China," kata Blume dalam konferensi industri di Paris.

Kerja sama dengan produsen China di Eropa juga memiliki risiko tersendiri. Akses terhadap fasilitas produksi milik perusahaan Eropa dapat membantu produsen China melokalkan produksi dan memenuhi regulasi setempat, tetapi pada saat yang sama berpotensi meningkatkan persaingan bagi produsen otomotif Eropa.

Analis dari Pusat Manajemen Otomotif Jerman, Stefan Bratzel, mengatakan Volkswagen dan Stellantis mengambil pendekatan berbeda dalam menjalin kemitraan dengan perusahaan China.

Volkswagen lebih menitikberatkan kerja sama di pasar China, sedangkan aliansi Stellantis dengan Leapmotor menjadi contoh kolaborasi yang berkembang di Eropa.

Bratzel menilai produsen otomotif Eropa perlu menerima kenyataan bahwa China kini memiliki sejumlah keunggulan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi industri otomotif global.

"Selama bertahun-tahun, orang China yang belajar dari orang Jerman. Sekarang proses itu harus dibalik," ujarnya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persaingan mobil listrik tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan mengembangkan teknologi sendiri. 

Kecepatan inovasi, efisiensi biaya, kemitraan strategis, dan kemampuan menghadirkan produk ke pasar juga menjadi faktor penting bagi Volkswagen dan Stellantis dalam mempertahankan posisi mereka di industri otomotif Eropa.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close