Nusantaratv.com-Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 2025 mencapai Rp326 triliun. Angka tersebut meningkat 75,3% dibandingkan laba pada 2024 yang tercatat sebesar Rp186 triliun.
Prabowo menegaskan, capaian laba tersebut merupakan hasil setelah pemerintah melakukan koreksi terhadap laporan keuangan BUMN. Dengan demikian, angka yang disampaikan disebut tidak lagi mengandung "permainan angka".
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
"Kita telah mengoreksi laporan keuntungan dari banyak BUMN. Setelah kita koreksi, hasil BUMN tahun 2024 menjadi Rp186 triliun. Dividen BUMN di tahun 2024 adalah Rp85,5 triliun," kata Prabowo.
Ia menjelaskan, pembenahan yang dilakukan pemerintah kemudian berdampak pada peningkatan laba BUMN pada tahun berikutnya.
"Karena perbaikan-perbaikan yang kita kerjakan, pada tahun 2025 keuntungan BUMN mencapai Rp326 triliun. Naik 75,3% dari tahun 2024. Rp326 triliun ini adalah keuntungan tanpa permainan angka," tegasnya.
Prabowo juga menegaskan tidak akan ada toleransi terhadap manipulasi angka maupun laporan palsu di lingkungan BUMN. Menurutnya, pemerintah membutuhkan data yang akurat meskipun hasil yang diperoleh terkadang tidak menyenangkan.
"Saudara-saudara, saya juga ingatkan di sini bahwa kita tidak mau toleransi dengan permainan angka, dengan laporan palsu. Kita harus dapat angka-angka yang benar, angka yang tepat, walaupun kadang-kadang pahit," ujar Prabowo.
Selain pertumbuhan laba, Prabowo turut menyoroti peningkatan dividen BUMN yang disetorkan kepada negara.
Pada 2025, dividen BUMN mencapai Rp142,3 triliun atau naik 67% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Prabowo menilai perhitungan yang lebih mencerminkan kinerja sebenarnya adalah dividen neto setelah dikurangi penyertaan modal negara (PMN) yang disalurkan melalui APBN.
Pada 2024, dividen setelah dikurangi PMN berada di angka Rp53 triliun. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi Rp138 triliun pada 2025 atau tumbuh sekitar 160%.
"Dividen BUMN di tahun 2026 ini diproyeksikan kembali naik sampai dengan Rp200 triliun. Tanpa ada PMN," kata Prabowo.
Dengan proyeksi tersebut, dividen BUMN neto setelah dikurangi PMN diperkirakan melonjak hampir empat kali lipat dibandingkan 2024, dari Rp53 triliun menjadi Rp200 triliun pada 2026.
"Artinya, dari 2024 ke 2026 naik dari Rp53 triliun ke Rp200 triliun atau bisa dikatakan empat kali lebih besar. 400 persen meningkatnya tanpa PMN," ujarnya.
Menurut Prabowo, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kinerja perusahaan negara dapat membaik dalam waktu relatif cepat apabila dikelola secara sehat dan tanpa manipulasi.
"Ini membuktikan dengan manajemen yang akal sehat, dengan niat tidak menipu, keberhasilan kita bisa datang dengan sangat cepat," kata Prabowo.
Di akhir penyampaiannya, Prabowo memberikan penghargaan kepada jajaran manajemen serta pimpinan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) atas kinerja tersebut.
"Sekali lagi, saya apresiasi manajemen dan pimpinan Danantara," ujarnya.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh